Hariz Yoshi
Rabu, 19 Maret 2014
KISAH NYATA
Ada sepasang kekasih yang sudah 8 bulan berpacaran.
Tetapi awal bulan oktober sifat si wanita sudah mulai berubah (karna orang ke 2), si pria sudah mulai menyadarinya tetapi hanya berdiam dan tersenyum..
Tgl 9 oktober.
Saat malam mereka pergi ke sebuah cafe, sang pria bertanya 'Apa ada sesuatu yang ngebuat kamu bosen sama aku ?' Wanita menjawab 'gak ada'
Si pria pun berusaha percaya dan tidak berfikir negatif.
Tgl 10 oktober (anniversary 9 month)
Si pria menelpon kekasihnya, hingga total 22 panggilan tak terjawab, lalu sang pria mengirim BBM 'Aku tunggu kamu jam 7 di PIK tempat biasa, kalo udah jalan hubungin aku'. Si pria terus menunggu dan yakin bahwa pacarnya akan datang, di saat itu hujan sngat besar, sang pria terus berusaha berfikir positif dan yakin pacarnya akan datang
Tgl 11 oktober pukul 01.30
Si wanita bru membalas BBM pacarnya 'Aku gak bisa dateng, ada acara keluarga, maaf ya aku baru bls .Tadi gak ada pulsa' (padahal pergi karaoke n' hang out breng orang ke 2)
Ketika sore hari sesudah pulang setelah jalan bersama orang ke 2 si wanita bermaksud datang ke rumah si pria supaya si pria gak marah karena sejak malam sang pria tidak menghubungi dia. Dia langsung pergi ke rumah sang pria, dia melihat pacarnya sudah tertidur di atas kain putih dengan memegang cincin 'Keluarga si pria memberikan HP si pria untuk di lihat oleh si wanita, betapa kagetnya si wanita ketika melihat si pria.
Sebelum meninggal sempat mem video kan lilin yang bertebaran di pantai yang sudah mulai padam karna air hujan. Pada saat itu si pria sudah menyiapkan cincin untuk pacarnya dan juga kejutan yang sangat indah. Sang pria bertabrakan dengan trotoar di daerah PIK dan mengalami pendarahan otak sehingga tidak bisa di selamatkan..
Jangan hanya karna ada orang yang lebih baik sampai kita melupakan org yang sudah menyayangi kita.
Karena kita tidak pernah tau bahwa dialah yang terbaik dari yg terbaik
Note : Jangan pernah sia2kan perhatian atau kepedulian seseorang kepadamu..
Minggu, 23 Februari 2014
Cerita Cinta Seorang Suami
Oleh : Liliana Armandi *)
Aku membencinya!!!
Itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun bersedia dia nikahi, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua,membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain.
Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tetapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk mereka putri satu-satunya.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar- benar menjalani tugasku sebagai seorang istri.
Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur. Aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket.
Aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku. Aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi. Aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tetapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan. Dokterpun menolak menggugurkannya. Itulah kemarahanku terbesar padanya.
Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang kedelapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan.
Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Pagi itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya. Saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu.
Yaah..., aku merasa terjebak dengan perkimpoianku. Aku juga membenci kedua orangtuaku. Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak.
Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Setelah mereka pergi, aku memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai.
Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam, aku tak jua menemukannya.
Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan,aku menelepon suami dan bertanya...
“Maaf ya, Sayang! Kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu. Kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku,” katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara.
Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan, meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, Aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada di mana?” tanya suamiku cepat, sepertinya kuatir aku menutup telepon kembali.
Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi.
Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam. Aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, Ibu. Apakah ibu ini istri dari Pak Armandi?”
Kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi. Ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian.
Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku.
Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, Serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.
Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah, ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama.
Saat itulah dadaku menjadi sesak, teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.
Air mata merebak di mataku, Mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap, berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, Aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja.
Tetapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam masjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tetapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makanannya, padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan.
Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak dia sukai.
Hampir seluruh keluarga kemudian tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, Karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa.
Ia pun pulang larut malam setiap hari karena jarak kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apa pun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besar membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya.
Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu.
Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan malah ibuku yang datang, Aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku.
Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku. Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tetapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali.
Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, tetapi sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana.
Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, tetapi sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnya pun tidak kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote.
Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya. Aku juga marah pada diriku sendiri. Aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang.
Tak ada lagi yang mengingatkanku shalat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku shalat karena aku ingin meminta maaf; meminta ampun pada Allah Yang Maha Pengampun karena menyia-nyiakan suami yang Dia anugerahi padaku; meminta ampun karena telah menjadi isteri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna.
Shalat-lah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang padaku ditunjukkanNya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belakan, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku.
Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli; yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku guna kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa.
Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga.
Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, Ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tetapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku:
Istriku Liliana tersayang!
Maaf karena aku harus meninggalkanmu terlebih dahulu. Maaf karena harus membuatmu bertanggungjawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah Yang Mahakuasa memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu. Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingimu, Sayang, selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja.
Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin Sayang dan anak-anak kita susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap Sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak- anak. Lakukanlah yang terbaik untuk mereka ya, Sayang!
Jangan menangis, Sayangku yang manja! Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku: maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah kelak isteri yang baik seperti Ibu.
Dan Farhan, ksatria kebanggaanku: jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat di manapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke!
Aku terisak membaca surat itu, Ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note. Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya.
Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku pun tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkan kami selama-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikah dengan seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri? Soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya, Bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata, “Cinta, Sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta,kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “Seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “Bukan, Sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tetapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
Saya copy dariURL : http://pharcom.zop.mobi/index.php?page=item&id=8854#
Jumat, 30 Agustus 2013
CERPEN LUCU
COWOK IDAMAN
Cewek : “Mas kerja dimana?”
Cowok : “Saya cuma usaha beberapa hotel bintang 4 dan 5 di Jakarta dan Bali…”
Cewek : “(Wow…Konglomerat pasti!)… Mas tinggal dimana?”
Cowok : “Pondok Indah Bukit Golf…”
Cewek : “(Wow kereenn…Rumah orang-orang “The Haves”) Pasti gede rumahnya yah…?”
… Cowok : “Ngga ah…Biasa aja koq…cuma 3000 m2…”
Cewek : “(Busett!) Pasti mobilnya banyak yah…?”
Cowok : “Sedikit koq…Cuma ada Ferrari, Jaguar, Mercedes, BMW, Mazda…”
Cewek : “(Wah cowok idaman gue nihh!!) Mas uda punya istri…?”
Cowok : “Hmm…Sampai saat ini belum tuh…hehe…”
Cewek : “(Enak juga nih kalu gue bisa jadi bininya…) Mas merokok??”
Cowok : “Tidak…rokok itu tidak bagus untuk kesehatan tubuh…”
Cewek : “(Wah sehat nihh!) Mas suka minum-minuman keras?”
Cowok : “Tidak donk…”
Cewek : “(Gilee…Cool abizz!!) Mas suka judi??”
Cowok : “Nggak…ngapain juga judi ngabisin duit aja”
Cewek : “(OoOhh…So sweett…) Mas suka dugem gitu ga??”
Cowok : “Tidak tidak…”
Cewek : “(Iihh…sholeh banget nih cowokk!) Mas udah naik haji?”
Cowok : “Yah…baru 3x dan umroh paling 6x…”
Cewek : “(Subhanallah…calon surgawi…) Hobinya apa sih mas?”
Cowok : “Bohongin orang……”
PEROKOK DAN ANTI ROKOK
PR : Perokok
BP : Bukan Perokok
PR mengeluarkan sebungkus rokok dari kantung celananya bermaksud untuk menawarkan kepada orang sebelahnya
PR : Mau rokok mas?
BP : oh tidak,, terimakasih
BP merasa tergugah, dan ingin memberi arahan kepada si PR supaya tidak merokok, lantas mulailah si BP mengawali pembicaraan
BP : sehari habis berapa batang rokok mas?
PR : Biasanya sih 2 bungkus
BP : sebungkus harganya berapa mas?
PR : 10.000
BP : mas udah berapa tahun ngerokok?
PR : kurang lebih 20 tahun
BP : begini saya kasih gambaran, 1 bungkus harganya 10ribu, satu hari mas habis 2 bungkus, jadi 20.000. kalo satu bulan jadi 20.000 x 30 = 600.000. jadi kalo satu tahun berarti 600.000 x 12 = 7.200.000 , kalo anda udah 20 taun ngerokok berarti 7.200.000 x 20 = 144.000.000.. wahh seharusnya kalo mas gak merokok udah bisa beli mobil tuh!
PR : saya juga kasih gambaran!
BP : silahkan
PR : mas perokok atau tidak?
BP : tidak. itu haram bagi saya
PR : LAH? NAPE LO NAIK BUS? MOBIL LO MANA???
BP : $#^@ X!!? + == D @^-*(%)
Einstein Vs Mr. Bean
Suatu hari Einstein dan Mr.Bean ga sengaja ketemu di sebuah taman. Einstein sedang merasa bosan, Mr.Bean pun sedang terlihat santai, lantas Einstein mengajak Mr.Bean bermain sebuah permainan.
Einstein: Bean, kita maen yu.. Permainannya gini, gw kasi pertanyaan ke u, kalo u gabisa jawab, u kasi gw $1 aja. Nah, kalo u ngasi pertanyaan ke gw dan gw gabisa jawab, gw kasi u $1000
Mr.Bean: yayaya (dengan muka khasnya yg tersenyum)
Einstein: Gw dulu ya.. Pertanyaannya.. Berapa jarak dari bumi ke bulan?
Mr.Bean: Hehehe, (langsung merogoh kantongnya dan memberi $1 dan diberikannya uang itu ke Einstein)
Dan sekarang giliran Mr.Bean bertanya
Mr.Bean: My turn… Apakah yang saat naik ke atas bukit menggunakan 3 kaki, dan saat turun menggunakan 4 kaki?
Lalu Einstein dengan cekatannya membuka semua buku yg ada di tasnya, bertanya kepada kolega2nya, rekan2nya, berpikir keras. Tetapi setelah 1 jam berlalu, akhirnya dia menyerah
Einstein: Nih (memberikan $1000 sambil garuk2 kepala)
Mr.Bean: Hehehe (tawa khas Mr.Bean)
Lalu Bean pun hendak pergi dari taman itu
Einstein: Eh tunggu dulu, Bean. Emang jawabannya apa si?
Mr. Bean: hohoho… (lalu dia merogoh sakunya dan memberikan Einstein $1). Gw juga gatau..
Lalu Bean pun pergi meninggalkan Einstein
Teknologi Canggih
3 Orang tengah terdiam menikmati kehangatan sauna, yaitu orang dari Amerika, Jepang dan Indonesia. Keheningan didalam ruangan sauna dipecahkan oleh bunyi, ..bip,…bip,….bip…… Orang Amerika membuka telapak tangan kirinya, dan membaca tulisan yang tertulis ditelapak tangannya itu. Dua rekan se ‘sauna’nya dengan kagum melihat tulisan yang muncul ditelapak tangan orang Amerika tersebut.
“Oh, telapak tangan saya telah ditanamkan chips, saya dapat langsung menerima pesan SMS tanpa alat , SMS nya langung tampil ditelapak tangan saya,…” ujar si Amerika ketika melihat kedua rekannya bengong.
Sesat kemudian terdengar dering telepon, orang Jepang mengangkat tangan kanannya, jempol didekatkan ke telinga sedangkan jari kelingking kebibirnya, “Oh maaf, saya terima telepon dulu, tangan saya sudah berisi chips, saya dapat menerima dan berbicara melalui 2 jari saya tanpa menggunakan HP” kata si Jepang.
Melihat semua itu, orang Indonesia mulai gugup, Apa yang bisa saya tunjukkan untuk mengalahkan orang orang ini? pikirnya. Karena stress, keinginannya untuk buang air besar tidak tertahankan lagi.
Usai buang air, dia kembali lagi ke ruang sauna, tetapi karena tidak biasa membasuh bokongnya dengan kertas toilet, seuntai kertas toilet masih berjuntai di belahan bokongnya.
Dengan keheranan orang Jepang dan orang Amerika menunjuk ke untaian kertas ‘sisa’ tsb dan berkata: “Kertas apa itu yang tergantung dibokong anda…?”
“Oh maaf, saya baru terima Fax..” jawab orang Indonesia tersebut.
Einstein: #$%^(*&^”?>!!
MOTIVASI CINTA

-Tulusnya cinta, meski tak lagi bersama, kadang rasa benci hadir dalam dada, kamu tetap tak pernah melewatkan seharipun tanpa merindukannya. .
-Ketika kamu mencintai, jujurlah pada diri. Jadi diri sendiri, jangan biarkan mereka jatuh cinta pada seseorang yg bukan dirimu. .
-Banyak wanita jatuh cinta pada pria yg salah, hanya karena wanita mudah percaya apa yg dikatakan pria tersebut adalah hal yg benar. .
-Cinta tak hanya sekedar kata. Cinta harus ditunjukkan dalam tindakan nyata, karena cinta butuh sesuatu yang bisa dipercaya. .
-Jangan menuntut ingin dicintai apa adanya jika kamu masih memberi syarat kepada seseorang yang mencintaimu. .
-Cinta mampu menerima kekurangan. Dan cinta ada untuk saling melengkapi kekurangan. .
-Bukan hanya bahagia dan tawa, tapi derita dan air mata juga bagian dari cinta. .
-Terkadang kamu tahu bahwa kamu mampu menghindari rasa sakit, namun kamu juga sadar bahwa cintamu lebih berarti dari rasa sakit. .
-Tak ada yang lebih kuat dari cinta sejati. Kamu harus percaya untuk saling memahami, dan kamu harus memahami untuk saling percaya. .
-Cinta kasih adalah perasaan hati, yang harus diungkapkan dengan hati, bukan hanya dengan rayuan atau pujian. .
-Ketika kamu mencintai seseorang, berusahalah cintai kekurangannya, bukan hanya mengubahnya seperti yang kamu mau. .
-Kadang tak peduli seberapa sakit seseorang melukaimu, kamu tetap bertahan, karena akan lebih menyakitkan jika kamu kehilangannya. .
-Cinta adalah sesuatu yg sulit dikendalikan. Kadang ketika kamu berpura-pura tuk tak peduli, akan membuatmu lebih merindukannya. .
-Jangan pernah berdusta pada dia yg kamu cinta. Kejujuran mungkin menyakitkan, tapi kebohongan menghancurkan segala. .
-Ketika dua hati saling tulus mencinta, mereka akan selalu temukan cara tuk tetap bertahan, tak peduli betapa sulitnya tuk terus bersama. .
-Terkadang, meski tahu bahwa kamu bisa hidup tanpa dia yg kamu cinta, kamu terus meyakinkan dirimu bahwa kamu tak menginginkan hal itu. .
-Cinta tak datang dari tatapan mata, namun dari permintaan hati. Karena cinta dari hati, yang tak sempurna akan jadi sempurna. .
-Jgn berkata kau mencintai seseorg jika kau tdk pernah menangis, berdoa, & berjuang utk menjadikannya bagian dri hiidupmu. .
-Dalam cinta, kamu bisa berpura-pura tak peduli, tapi sebenarnya kamu tahu, hal sekecil apapun yang dia lakukan terkadang bisa menyakiti. .
-Dalam cinta, kamu mungkin mencintai yg salah, menangis tuk alasan yg salah, tapi semua itu membantumu menemukan dia yg tepat. .
-Cinta tak pernah mensyaratkan kesempurnaan. Karena cinta adalah menerima, memahami, dan rela berkorban demi kebahagiaan bersama. .
-Cinta bisa membuat bahagia, cinta juga bisa membuatmu terluka. Maka jika kamu ingin bermain cinta, kamu harus siap untuk menerima keduanya. .
-Jangan takut mencinta hanya karena kamu pernah terluka. Rasa sakit membantumu dewasa. Maafkan, pelajari, dan kembali melangkah. .
-Terkadang kamu memilih tuk sendiri, karena tak kamu temukan seseorang yg mampu mencintaimu sebaik kamu mencintai dirimu sendiri. .
-Dia yg tulus mencintaimu takkan berjalan di depanmu, atau tertinggal di belakangmu. Dia akan selalu berjalan di sampingmu. .
-Mereka yg mencintaimu slalu ingin yg terbaik untukmu, hanya saja cara mereka bukan slalu yg terbaik. .
-Dalam cinta, tak perlu dia yg berkata bersedia MATI untukmu, karena yg kamu butuh dia yg bersedia HIDUP bersama denganmu .
-Kau selalu bsa mempercayai tanpa hrus mencintai, tpi kau tdk akan prnh bsa mencintai tanpa mempercayai. .
-Cinta memberimu alasan tuk tersenyum, momen indah tuk ditertawakan, tapi cinta jg memberimu kenangan yg tak pernah bisa dilupakan. .
-Hanya karena kamu tahu dia mencintaimu, tak berarti kamu harus berusaha mencintainya. Jujurlah drpda akhirnya seseorang akan terluka. .
-Dalam cinta, terkadang kamu harus belajar tuk melupakan apa yg kamu rasakan dan mulai menemukan apa yg pantas kamu dapatkan. .
-Berapa Besar ukuran CINTA? Sebesar PERJUANGAN kita untk MEMPERTAHANKAN nya. .
Minggu, 04 Agustus 2013
SEDIH
-Mungkin, seperti inilah takdir penyair. .
engkau menoreh luka, dan aku menulis sajakny. .
-Aku mencintai luka, guru terbaik mengenal bahagia. .
Aku mencintai kamu, guru terbaik untuk keakuanku. .
-Andai aku bisa mengulang sebuah kata yang tidak pernah terucap saat aku ada disampingmu, kata itu adalah AKU MENYAYANGIMU. .
-Hilang sudah seseorang yang telah menjadi pelipur lara. .
Menjadi penerang dalam gelap. .
Menjadi udara dalam nafasku dan menjadi harap dalam impiku. .
-Terkadang,di balik SENYUMAN seseorang, adalah LUKA yang dia pendam. .
-Luka terdalam adalah yang tak terlihat oleh mata. .
kesedihan terdalam adalah yang tak terucap oleh kata-kata. .
-Kadang kamu memilih tuk terlihat bahagia, karena tak ingin menjelaskan mengapa kamu bersedih pada mereka yang bahkan tak berusaha tuk mengerti. .
-Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis. .
Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah tersakiti. .
Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah mencari dan telah mencoba. .
-Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi masih peduli terhadapnya
Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu, kamu masih menunggunya dengan setia
Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sambil berkata ,
" Aku turut berbahagia untukmu "
-Lebih berbahaya mencucurkan air mata di dalam hati daripada air mata yang keluar dari mata kita. .
Air mata yang keluar dari mata kita dapat dihapus, Sementara air mata yang tersembunyi,
Akan menggoreskan luka di dalam hatimu yang bekasnya tidak akan pernah hilang. .
-Hati ini memang sakit saat kau kianati. .
Hati ini memang rapuh saat kau meninggalkanku. .
Namun hati ini berterima kasih kau telah mengenalkan arti dari patah hati. .
-Waktu memang tidak akan pernah bisa kembali. .
Namun hati ini berbeda. .
Selalu siap untuk kembali jika kamu memintanya untuk kembali. .
Rabu, 24 Juli 2013
GALAU
Kepada ibu yang telah melahirkanku
Maaf, karena ku belum bisa mengukir bahagia diwajah tuamu..
maaf, karena ku blm bisa menanam bangga dalam hatimu..
maaf, untuk semua air mata yang kau tumpahkan karena ku..
maaf, karena ku blm mampu menghapus beban ditubuh lelahmu..
ibu terimakasih untuk cinta dan ketulusan do'amu...
Ku selalu sayang Ibu
====================================================================
Kau dtang mngisi htiku yg saat itu ksong..
Kau bwt hari" ku kian indah,
Dg prhatian dan ksih syang, kau jga qw,
Tak prnh sdikitpun kau brani mnyentuhku..
Kau laki" yg sngguh brbeda,,
tp knp kni kau tk lg d si" ku..?
Qw mrindukn sosok drmu...
====================================================================
Mungkin bagimu aku hanyalah secarik tissue yang kau gunakan untuk mengusap air matamu..dan tak lebih dari itu!
====================================================================
Jika kehadiranku hanya
menyakitkanmu..
menyedihkan mu..
memalukanmu..
mengecewakanmu..
beri tau aku..agar aku
membahagiakanmu..
dengan menjauh darimu..
====================================================================
Bila aku tak berujung denganmu..
biarkan kisah ini kukenang selamanya..
Tuhan tolong buang rasa cintaku
jika tak Kau ijinkan aku bersamanya..
====================================================================
Kasih...
aku rindu padamu..saat aku sedih..
aku rindu padamu...saat aku sendiri..
tetapi
aku paling merindukanmu...saat aku bahagia..
====================================================================
Sepi ku rasa tanpa bayangmu
Sepi ku rasa tanpa rasa cintamu
Perih hati menahan sakit
Namun ku hanya mampu diam tuk coba lupakanmu
Pernah rasa tuk coba pergi
Meninggalkan cerita kisah kita berdua
namun itu malah buatku Sepi
Buatku rasa sesak dihati....
Mampukah aku tanpamu?
====================================================================
kata kata galau
Penghianatan itu adalah hal yang menyakitkan...
Begitu sakit rasanya terkhianati..
Apalagi dikhianati oleh sahabat sendiri..
====================================================================
Ingat dulu waktu aku belajar mencintamu, menyibukan hari-hari bersamamu.
Berusaha selalu mmebuatmu nyaman dan peka, Coba ingat dulu Siapa orang pertama yang membuatmu tertawa lepas? kamu bilang itu aku. Tapi ternyata kenyataan tak berpihak kepadaku, kamu mencintai orang lain, hanya saja karna dia lebih Materi dan derajat dariku, apakah ini adil?
====================================================================
Semua yang ku lewati sekarang, seperti mimpi. Berlalu dengan cepat, semua yang ku pertahankan sekarang hilang, isak tangis setiap malam, merintih sakit yang tak pernah padam.
Sekarang kau berhasil membuatku jatuh, berhasil membuatku hancur. entah kemana secercah harapan yang kupunya dulu.
====================================================================
Ketika rasa cinta itu memudar, rasa benci mulai menyelimuti dan peduli di gantikan tega. Haruskah aku melakukannya hanya untuk menunjukan aku lebih mampu menghancurkanmu dan tak peduli rasa sakit yang mungkin takkan bisa kamu obati?
====================================================================
Aku memang kurang segalanya, tapi setidaknya kasih sayang ini cukup untuk membuatmu bahagia walaupun tak sepenuhnya.
====================================================================
Cinta sejati adalah ketika dia yang kamu cinta tak lagi mempedulikanmu, tapi kamu masih menunggunya dengan setia...
====================================================================
Setidaknya aku sempat memilikimu, saat kau tinggalkan aku masih sanggup tersenyum.
saat kamu melangkah pergi aku masih sanggup melambaikan tangan dan berkata selamat jalan. :')
Dan jika suatu hari nanti kamu tidak ingat aku lagi, buatlah aku tidak pernah ada di masalalumu.
====================================================================
Kata kata galau cinta
Aku selalu menganggap yang pernah hadir temani aku adalah yang terbaik meski akhirnya ada sakit yang tertinggal. Aku tak pernah membandingkan satu dengan yang lainnya karena aku pun tidak mau di bandingkan. Setiap manusia itu istimewa karena di ciptakan sebagai penyeimbang dan pelengkap satu sama lainnya.
====================================================================
Ketulusan cinta itu bukan di cari tapi di resapi. Kamu ga bakal sadar seseorang dengan tulus mencintaimu saat ia masih bersamamu. Tapi saat ia hilang, kamu akan menyadari seberapa tulus ia mencintaimu.
====================================================================
Jangan pernah berbohong dan berkata kamu mencintai seseorang padahal sebenarnya tidak, bahkan dengan alasan takut menyakiti hatinya. Kebohongan kamu hanya akan lebih menyakitinya, terutama ketika ia menyadari kebenaran isi hati kamu. Kamu juga menjerumuskan diri dalam hubungan yang tidak membuat kamu bahagia.
====================================================================
Setiap detik yang kulalui semakin dekatkan aku pada kematian. Bila waktu telah berakhir untukku, kau tahu sahabatku, teman sejatiku adalah amal dan semoga saja kalian menjadi bagian amal yang baik. Dan kamu sayangku, semoga jadi penuntunku saat aku mengucapkan dua kalimat syahadat di saat aku sakratul maut.
====================================================================
Sabtu, 22 Juni 2013
[Kisah Nyata] Dalam Hidup, Aku Menangisi Adiku 6 kali.
Aku adalah seorang perempuan yang dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil.
Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik,tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut didepan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi.
Ayah begitu marahnya sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal
memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.
Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.
Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku.
Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik… hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku. ” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang.
Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai
ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh,seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”
Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga!
Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih dimana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”
Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan
sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.
“Tidak,tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.” Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku.
Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,“Kakakku.”
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sendoknya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
Langganan:
Komentar (Atom)




